Fish

Rabu, 03 April 2013

Hijrah Nabi Muhammad ke Madinah


       I.            PENDAHULUAN
Sebelum kami melanjutkan tentang riwayat hijrah Nabi SAW. ke kota Madinah, terlebih dahulu perlulah kami uraikan tentang arti hijrah di dalam Islam dan keterangannya. Kata hijrah berasal dari bahasa Arab yang berarti meninggalkan suatu perbuatan atau menjauhkan diri dari pergaulan atau berpisah dari suatu tempat ke tempat yang lain. Adapun artinya menurut syariat, hijrah itu ada tiga macam, yakni sebagai berikut : Pertama, hijrah dari (meninggalkan) semua perbuatan yang dilarang oleh Allah. Hijrah ini adalah wajib dikerjakan oleh setiap orang yang mengaku beragama Islam. Kedua, hijrah (mengasingkan) dari pergaulan dengan orang-orang musyrik atau orang-orang kafir yang memfitnah orang-orang yang memeluk Islam. Ketiga, hijrah (berpindah) dari negeri atau daerah orang-orang kafir atau musyrik ke negeri atau daerah orang-orang muslim, seperti Hijrah Nabi SAW. dan kaum muslimin dari Mekah ke Madinah.[1]
    II.            RUMUSAN MASALAH
1.      Bagaimanakah perjalanan Hijrah Nabi ke Madinah ?
2.       Apa tanggapan Rakyat Madinah terhadap  kedatangan Nabi ?
3.      Bagaimana karakteristik kota Madinah (Yatsrib) ?
 III.            PEMBAHASAN
A.    RASULULLAH SAW. HIJRAH KE MADINAH
Rasulullah SAW. menyaksikan bencana yang menimpa para pengikutnya, sedangkan beliau tidak mampu melindungi mereka. Maka beliau berkata kepada mereka, “seandainya kalian pergi ke negeri Habsyah. Sesungguhnya di sana terdapat seorang raja, yang tidak akan dianiaya orang yang ada di dekatnya. Negeri Habsyah adalah tanah kebenaran. Kalian sebaiknya berada di sana hingga Allah memeberikan kelapangan bagi kalian.”[2]
Ketika Rasulullah SAW. Telah bertekad bulat untuk meninggalkan Mekah menuju Madinah, turunlah ayat di bawah ini kepada beliau:
@è%ur Éb>§ ÓÍ_ù=Åz÷Šr& Ÿ@yzôãB 5-ôϹ ÓÍ_ô_̍÷zr&ur yltøƒèC 5-ôϹ @yèô_$#ur Ík< `ÏB y7Rà$©! $YZ»sÜù=ß #ZŽÅÁ¯R ÇÑÉÈ
Artinya: “Katakanlah: Tuhanku, masukkanlah aku dengan cara masuk yang benar dan keluarkanlah aku dengan cara keluar yang benar. Dan berilah aku dari hadhirat-Mu kekuasan yang memberi pertolongan”. (QS. Al-Isra’: 80)
Tidak ada yang mengetahui siapa yang lebih berhak memperoleh pertolongan Allah SWT. selain Rasulullah SAW. Walaupun begitu, kelayakannya mendapatkan bantuan Allah tidak membuat beliau ceroboh terhadap suatu tindakan dan akibatnya.
Beliau dengan teliti dan cermat merencanakan langkah-langkah pengamanan, baik bagi hijrah beliau sendiri maupun bagi rombongan lainnya. Menururt perhitungan beliau sendiri, beliau tidak akan meninggalkan suatu tempat tanpa alasan yang jelas. Sudah menjadi sifat beliau untuk mempertimbangkan sebab dan akibat dalam upayanya meraih keberhasilan. Setelah itu, barulah beliau bertawakal kepada Allah, sebab segala sesuatu tak mungkin terlaksana tanpa kehendak-Nya.
Hijrah Nabi Muhammad SAW. dari Mekah ke Madinah berlangsung secara wajar. Sebelumnya beliau minta kepada Ali bin Abi Thalib r.a. dan Abu Bakar ash-Shiddiq r. a. supaya tetap tinggal bersama beliau, sedangkan kaum muslimin yang lain diizinkan berangkat lebih dulu ke Madinah. Ketika Abu bakar ash-Shiddiq r. a. meminta izin kepada Rasulullah SAW. berangkat hijrah, beliau menjawab: “Jangan tergesa-gesa, mungkin Allah akan memberikan kepadamu seorang sahabat.”
Abu Bakar merasa bahwa yang beliau maksudkan dengan sahabat adalah beliau sendiri. Karena itu, ia lalu membeli dua ekor unta, disembunyikan dalam rumahnya dan diberi makanan secukupnya sebagai persiapan untuk kendaraana berangkat hijrah. Mengenai Ali bin Thalib r. a., Rasulullah telah mempersiapkannya untuk memainkan peranan khusus dalam medan-medan berbahaya. Rasulullah SAW. telah bersepakat dengan Abu Bakar r. a. mengenai rincian perjalanan yang akan mereka tempuh. Mereka berdua memilih goa untuk tempat persembunyian mereka, yaitu goa di sebelah selatan yang menghadap ke Yaman guna mengecoh para pengejarnya. Mereka juga menetapkan beberapa orang yang perlu mereka hubungi selama berada di tempat persembunyian,  masing-masing akan diberi tugas khusus.
Setelah segala sesuatunya dipersiapkan, beliau pulang dan mendapati bahwa orang-orang Quraisy sudah mulai mengepung rumahnya. Mereka mengerahkan pemuda-pemuda yang ditugaskan untuk membunuh Rasulullah SAW. Rasulullah SAW. segera menyuruh Ali bin Abi Thalib supaya mengenakan pakaian yang biasa dipakai tidur oleh beliau, kemudian supaya berbaring di tempat tidur beliau. Di larut malam yang gelap pekat, Rasulullah SAW. berhasil menyelinap keluar dari rumah dan pergi ke rumah Abu Bakar ash- Shiddiq r.a., kemudian mereka berdua keluar melalui sebuah pintu kecil di belakang rumah menuju Goa Tsur-sebuah goa yang sangat berjasa dalam menyelamatkan kehidupan Risalah terakhir dan hari depan peradaban yang sempurna. Di dalam goa itulah Risalah terakhir terlindung oleh kesunyiannya, keasingan dan keterpencilannya.[3]
Ketika keduanya berhenti di goa, Abu Bakar berkata: “Tetaplah di tempatmu  wahai Rasulullah, hingga aku memastikan goa ini aman untukmu.” Lalu Abu Baka masuk dan memeriksanya. Ketika ia selesai memeriksanya, ia teringat bahwa ia belum sempat memeriksa lubang-lubangnya. Lalu ia berkata: “Tetaplah di tempatmu, wahai Rasulullah, sampai aku selesai memeriksanya.” Lalu ia masuk dan memeriksanya kembali. Setelah dirasa aman, ia pun berkata: “Masuklah wahai Rasulullah!” Maka Rasulullah SAW. pun masuk. Keduanya masuk ke dalam gua. Pada saat itu Allah mengutus laba-laba untuk membuat sarang di antara gua dan pohon yang ada di depannya, menutupi Rasulullah SAW. dan Abu Bakar. Allah juga memerintahkan dua ekor merpati untuk bertelur dan mengeraminya di antara laba-laba dan pohon.
 Kaum Quraisy mengikuti jejak Rasulullah SAW. Itu adalah saat-saat yang kritis dalam sejarah kemausiaan yang panjang. Itu adalah saat yang paling menentukan. Bisa menjadi kesengsaraan panjang tanpa akhir, atau justru menjadi kunci kebahagiaan yang abadi. Kemanusiaan sedang menahan nafasnya, berdiri cemas, ketika para pemburu Rasulullah SAW. sampai di mulut gua. Antara mereka dengan yang mereka cari, tidak ada penghalang lagi jika salah satu dari mereka menengok ke bawah kakinya. Akan tetapi Allah telah membuat penghalang antara mereka, sehingga persoalannya menjadi rumit. Mereka melihat pada mulut gua terdapat sarang laba-laba.
Ketika kaum Quraisy kehilangan Rasulullah SAW., mereka menjanjikan hadiah seratus ekor unta bagi siapa yang bisa membawa beliau kepada mereka. Sementara itu, Rasulullah SAW. meneruskan perjalanan setelah berhenti di gua Tsur selama tiga malam. Selaim Abu Bakar, Rasulullah SAW. ditemani oleh ‘Amir bin Fuhairah dan seorang penunjuk jalan yang masih musyrik yang beliau beri upah. Si pemandu jalan membawa mereka melewati jalan pantai. Keduanya terus mengikuti jalan pemandu hingga sampai membawa mereka melewati jalan pantai. Keduanya terus mengikuti jalan pemandu hingga sampai di Quba’, yang terletak di luar kota Madinah. Hari itu adalah hari Senin, tanggal 12 Rabi’ul Awal. Itu adalah permulaan Islam (Hijrah).[4]
B.      KEDATANGAN NABI MUHAMMAD SAW. DI MADINAH
Ketika Rasulullah SAW. Keluar dari rumahnya pada saat musim Haji. Ketika berada di Aqabah, beliau bertemu dengan sekelompok orang dari kabilah Khazraj yang berasal dari Madinah. Beliau mengajak mereka untuk menyembah Allah, menjelaskan tentang Islam kepada mereka, serta membacakan Al-qur’an. Kabilah Khazraj bertetangga dengan kaum Yahudi di Madinah. Mereka telah mendengar dari kaum Yahudi yang mengabarkan akan datangnya seorang Nabi yang sudah dekat masanya. Sebagian mereka berkata kepada yang lain, “Wahai kaum! Kalian mengetahui, demi Allah, bahwa orang ini adalah Nabi yang telah dikabarkan oleh kaum Yahudi kepada kalian. Maka jangan sampai kalian didahului oleh mereka. Sambutlah dia! Berimanlah kepadanya!.” Mereka lalu pulang ke Madinah dalam keadaan beriman dan membenarkan Rasulullah SAW. Ketika mereka tiba di Madinah, mereka memberitahukan tentang Rasulullah SAW. kepada seluruh sanak saudara dan mengajaknya untuk masuk Islam, hingga tersebarlah Islam di kalangan mereka. Setiap rumah kaum Anshar selalu terdengar sebutan tentang Rasulullah SAW.[5]
Sebelum Nabi Muhammad SAW. tiba, berita tentang keberangkatannya bersama Abu Bakar r.a. telah tersiar terlebih dahulu hingga ke Madinah. Setiap pagi penduduk kota itu banyak yang keluar dari rumah menantikan kedatangan manusia besar dengan perasaan rindu. Mereka berbondong-bondong pergi ke pinggir kota hendak menjemput beliau, tetapi bila pada hari beliau belum juga tampak dan terik matahari terasa membakar, mereka pulang kembali kerumah masing-masing sambil saling berjanji akan menjemput lagi pada keesokan harinnya. Semuanya dicekam perasaan tak sabar dan resah bercampur harapan.[6]
Suatu hari pada waktu siang, saat matahari sedang memancarkan panasnya ke muka bumi, Nabi SAW. dan Abu Bakar telah sampai dan datang di suatu tempat, yaitu kampung Quba namanya. Waktu itu, di antara penduduk kampung Quba sudah banyak yang memeluk Islam, tetapi tidak seorang pun di antara mereka yang sudah mengenal wajah Nabi dan Abu Bakar. Begitu juga mereka yang datang dari Yatsrib dengan maksud menyongsong kedatangan beliau, tidak seorang pun di antara mereka telah mengenal Nabi atau Abu Bakar. Sehingga, mereka sama sekali belum mengetahui bahwa Nabi telah datang dan sedang berteduh di bawah sebatang pohon kurma. Pada waktu itu, ada seorang Yahudi yang mengetahui bahwa ada dua orang yang sedang berteduh di bawah pohon kurma dan keduanya berpakaian serba putih, yaitu Nabi dan sahabatnya, yang sedang diharap-harap kedatangannya oleh kaum muslimin. Seketika itu juga, ia lalu naik ke suatu tempat sekeras-kerasnya meanggil orang-orang dari Madinah yang bermaksud menyambut kedatangan Nabi, “Hai orang-orang Arab! Itulah orang yang kamu hara-harap dan kamu nanti-nanti kedatangnnya!” Demikianlah teriak orang Yahudi itu berulang-ulang.
Dengan segera, mereka yang berniat menjemput itu berlari-lari menuju tempat Nabi berteduh. Sesampainya mereka di sana, tahulah mereka bahwa di sana memang ada orang-orang dari luar kota yanng baru datang dan sedang beristirahat dibawah pohon kurma. Akan tetapi, mereka tidak mengetahui yang manakah dari orang-orang itu seorang yang kedatangannya mereka nanti-nantikan ? Orang-orang dari Quba pun datang berduyun-duyun di tempat tersebut. Waktu itu yang mereka beri hormat ialah Abu Bakar karena mereka menyangka bahwa barangkali dialah yang selama ini mereka nanti-nanti dan bahwa Nabi itu kawannya. Maklum, mereka sama sekali belum mengenal wajah Nabi dan Abu Bakar. Karena sahabat Abu Bakar r.a. mengerti bahwa sangkaan mereka itu keliru maka dengan segera ia mengibar-ngibarkan rida’ ‘selendang’-nya lalu meneduhi Nabi SAW.. Hari itu adalah hari Itsnani ‘Senin’ 12 Rabi’ul Awwal tahun ke-13 dari kenabian atau tahun ke-53 dari hari kelahiran beliau. Adapun berangkatnya beliau dari Mekah adalah pada permulaan bulan Rabi’ul-Awwal tersebut.
Selanjutnya, kaum muslimin meminta Nabi untuk tinggal beberapa hari di Quba dan permintaan itu dikabulkan oleh beliau. Beliau lalu singgah dan berdiam di rumah  bernama Kaltsum bin Hadam yang berasal dari keturunan Amr bin Auf   dari golongan Aus. Adapun Abu Bakar berdiam d rumah seseorang yang bernama Habib bin Asaf yang berasal dari keturunan Harits dari go Habib bin Asaf yang berasal dari keturunan Harits dari golongan Khazraj.[7]
C.    KARAKTERISTIK KOTA MADINAH (YATSRIB)
Rasulullah SAW. telah mengisyaratkan hikamah Illahiyah dalam memilih Madinah, dengan perkataan beliau kepada sahabat-sahabatnya sebelum hijrah “sesungguhnya aku telah memilih tempat kalian hijrah, yang mempunyai pohon-pohon kurma dan terletek di antara dua kampung.” Lalu berhijrahlah mereka ke Madinah. Penduduk Madinah dari kalangan Aus dan Khazraj memiliki keberanian, ketangkasan, kekuatan, kesadaran akan harga diri, dan mencintai kebebasan. Mereka tidak mau tunduk kepada siapa pun. Mereka tidak menyerahkan hasil bumi atau pajak kepada kabilah atau pemerintah mana pun. Hal ini tertera jelas dalam ucapan Sa’ad bin Mu’adz, pemimpin kabilah Aus, kepada Rasulullah SAW., “Dahulu kami berda dalam kemusyrikan kepada Allah dan penyembahan berhala. Kami tidak menyembah Allah dan tidak mengenal-Nya. Merek tidak memakan buah kurma Madinah kecuali dalam bentuk jamuan atau perniagaan”.
Dalam kitab al-‘Iqdul Farid  disebutkan, “Kaum Anshar berasal dari kabilah Azdi. Mereka adalah kabilah Aus dan Khazraj. Keduanya merupakan anak keturunan Haritsah bin ‘Amr bin ‘Amir. Mereka paling menghargai kehormatan diri dan , dan paling tinggi semangatnya. Mereka belum pernah sama sekali menyerahkan hasil bumi kepada satu raja.”
Jadi, Madinah (Yatsrib) adalah tempat terbaik sebagai tempat hijrah Rasulullah SAW. dan para sahabatnya. Negeri tempat bermukim, hingga Islam menjadi kuat dan mampu membuka jalan ke depan, menerangi Jazirah Arab hingga ke seluruh dunia dengan Islam.[8]
D.    KESIMPULAN
Peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW. memberikan kesimpulan bahwa dakwah dan akidah akan dapat melepaskan seseorang dari setiap yang dicintainya ; dari semua kawan, pendamping, penghibur, serta segala hal yang dikasih; dari setiap yang diutamakan, dipegang teguh dan dipatuhi, sesuai dengan watak aslinya. Sebaliknya segala sesuatu tidak akan dapat melepaskan dakwah dan akidah dari manusia. Sejarah dakwah dan agama telah bersanding dengan gerakan yang terkadang bersifat sendiri-sendiri dan terkadang bersifat bersama-sama[9].    
E.     PENUTUP
Demikianlah makalah dari kami yang membahas tentang Hijrah Nabi Muhammad SAW. ke Madinah, kami sadar bahw dalam penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari segi pembahasan maupun dari segi sistematika penulisan. Oleh karena itu saran dan kritik dari teman-teman kami masih harapkan demi kesempurnaan makalah kami selanjutnya, semoga dapat bermanfaat dan menambah wawasan serta khazanah ilmu pengetahuan kita. Sekian dan trima kasih.

DAFTAR PUSTAKA

Chalil, K.H. Moenawar,  Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad SAW., jakarta: Gema Insani, 2001.
an-Nadwi, Abul Hasan ‘Ali al-Hasani, Sejarah Lengkap Nabi Muhammad SAW., Yogyakarta: Mardhiyah Press, 2007.

A l-Ghazaliy, Muhammad, Fiqhus Sirah, Bandung: PT. Alma’arif.



[1] K.H. Moenawar Chalil, Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad SAW., (jakarta: Gema Insani, 2001), h. 419-420. 
[2]Abul Hasan ‘Ali al-Hasani an-Nadwi, Sejarah Lengkap Nabi Muhammad SAW., (Yogyakarta: Mardhiyah Press, 2007 ), hal. 138.
[3]Muhammad Al-Ghazali, Sejarah Perjalanan Hidup Muhammad, (Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2003), hal. 185-189.
[4] Abul Hasan ‘Ali al-Hasani an-Nadwi, Sejarah Lengkap Nabi Muhammad SAW., (Yogyakarta: Mardhiyah Press, 2007 ), hal. 188-192.
[5] Ibid, hal. 169-170.
7 Muhammad A l-Ghazaliy, Fiqhus Sirah, (Bandung: PT. Alma’arif), hal.293.

[7] K.H. Moenawar Chalil, Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad SAW., (jakarta: Gema Insani, 2001), h. 456-457.
[8] Abul Hasan ‘Ali al-Hasani an-Nadwi, Sejarah Lengkap Nabi Muhammad SAW., (Yogyakarta: Mardhiyah Press, 2007 ), hal. 174-178.
[9] Abul Hasan ‘Ali al-Hasani an-Nadwi, Sejarah Lengkap Nabi Muhammad SAW., (Yogyakarta: Mardhiyah Press, 2007 ), hal. 186.